7 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mulai Investasi P2P Lending

PROFIT.web.idPeer-to-Peer Lending atau P2P Lending adalah sebuah penyelenggaraan jasa keuangan yang digunakan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Layanan P2P Lending sendiri berfungsi sebagai platform menghubungkan keduanya dan menyimpan dana bersama tersebut.

Dengan adanya P2P Lending, penerima pinjaman dapat mendapatkan modal dengan cara yang mudah. Dan pemberi pinjamam pun mendapatkan cara alternatif untuk menginvestasikan uang mereka.

Dengan semakin banyaknya layanan P2P lending, tentu tidak sulit untuk mulai berinvestasi menggunakan metode ini. Meski begitu ada beberapa hal yabng harus diperhatikan jika kamu ingin mencobanya.

Tips Investasi P2P Lending

tips investasi p2p lending

1. Tetapkan Tujuan Investasi

Sama seperti investasi lainnya, sebelum mulai kita harus mengetahui dulu apa tujuan kita berinvestasi. Dengan begitu kita bisa melihat apakah P2P Lending ini cocok dengan tujuan investasi kita.

Umumnya platform P2P lending menawarkan keuntungan antara 15-20% per tahunnya. Selain itu profit juga bisa didapat dengan cepat, kadang hanya dalam hitungan bulan saja. karena itulah, P2P Lending akan cocok untuk kamu yang sedang mencari investasi menguntungkan untuk jangka pendek dan jangka menengah.

2. Sudah Terdaftar OJK

Semakin banyaknya kebutuhan pinjaman online membuat fintech P2P lending berkembang pesat. Meski begitu, kita tidak bisa sembarangan memilih karena layanan ini nantinya akan kita percaya untuk mengelola uang yang kita miliki.

Agar tidak salah pilih, pastikan kita memiilh fintech P2P lending terbaik. Salah satu caranya adalah dengan memastikan apakah layanan tersebut sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau belum?

OJK secara rutin merilis semua fintech yang sudah terdaftar dan berizin resmi. Kamu bisa melihatnya sendiri di situs resmi mereka, ojk.go.id.

Untuk bisa terdaftar di OJK sendiri butuh syarat ketat. Selain harus sudah berbadan hukum, pemohon juga harus menyiapkan banyak hal seperti rencana bisnis serta data dan informasi lain terkain Industri Keuangan Digital (IKD).

Jadi dengan memilih perusahaan yang sudah legal di mata OJK, kita tentu tak perlu khawatir lagi mengenai legalitas layanan P2P lending yang kita pilih.

3. Kenali Risikonya

Sama seperti instrumen investasi lainnya, P2P Lending juga memiliki risikonya sendiri. Risiko yang sering terjadi pada layanan P2P lending biasanya berupa Risiko Uang Hilang.

Risiko semacam ini dapat terjadi ketika peminjam dana ternyata mengalami kerugian sehingga kita tidak bisa mendapatkan proyeksi keuntungan yang sudah ditetapkan di awal.

Selain itu risiko ini juga bisa terjadi karena peminjam uang menunggak pembayaran, atau malah membawa kabur modal yang sudah diberikan.

Risiko lain yang biasanya muncul adalah Risiko Penutupan Fintech. Jika layanan yang kita gunakan tiba-tiba tidak beroperasi lagi, ada kemungkina besar uang yang sudah kita tanamkan juga akan ikut hilang. Karena itu penting untuk memilih fintech yang sudah kredibel dan memiliki alamat serta struktur lengkap.

4. Memiliki Layanan Proteksi Dana

Untuk meminimalkan risiko uang hilang seperti contoh di atas, beberapa layanan fintech bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk memberikan layanan proteksi dana pada para pengguanya.

Dengan adanya layanan ini, kita bisa menekan risiko gagal bayar dari peminjam dana dengan jaminan pengembalian dana hingga 85% dari tunggakan pokok. Meski harus melewati proses verifikasi yang cukup ketat, setidaknya uang yang kita tanam tidak akan hilang semuanya.

5. Cek Kandidat Peminjam dana

Fintech P2P lending umumnya sudah memiliki tim untuk menyaring dan mengevaluasi peminjam yang bisa mengajukan proposal kepada pemberi dana. Beberapa layanan fintech ini bahkan memberi rating/grade pada masing-masing investasi agar pemula sekalipun dapat memilih proyek terbaik untuk mereka.

Meski begitu kita tetap harus selektif dalam memilih invesasi yang akan dimodali. Salah satunya adalah dengan melihat informasi seputar peminjam dana. Selain itu kita juga bisa melihat histori peminjamannya dan menilai sendiri kualitas peminjam dana tersebut.

6. Jangan Bergantung pada P2P Lending Saja

Meski terlihat sangat menggiurkan, ada baiknya kita tetap melakukan diversifikasi dan tidak hanya bergantung pada P2P lending saja, apalagi kalau sampai bergantung pada satu produk saja.

Untuk meminimalkan risiko kegagalan investasi, kita bisa melakukan investasi pada hal lain seperti logam mulia, saham, reksa dana, atau surat obligasi.


Dengan tingkat keuntungan yang mencapai lebih dari 20% per tahunnya, P2P lending layak dilirk sebagai salah satu bentuk investasi. Apalagi profit bisa didapat dalam waktu singkat saja.

Meski begitu kita tetap harus berhati-hati saat memilih jasa P2P Lending agar risiko kehilangan uang bisa ditekan seminim mungkin.

Leave a Reply